Breaking News
Tampilkan postingan dengan label local widom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label local widom. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Bangle, Sang Tanaman Ajaib Anti Bakteri dan Virus

Bangle mempunyai Kaitan Erat dengan Tradisi Budaya Sunda
Dahulu kala, sekitar tahun 1950-an, di Desa Darma wangi Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang Jawa Barat,bangle atau dalam bahasa sunda disebut panglay (Zingiber Cassummunarro xb) telah digunakan oleh petani untuk mengusir penyakit pada tanaman padi.Cukup dengan menumbuk daun bangle dan atau rimpangnya, kemudian direndam dalam air selama semalam, lalu diciprat-cipratkan ke sawah dengan mengunakan sapu pare (sapu yang terbuat dari jerami padi) pada saat padi menjelang bunting. 

Hal yang sama dilakukan oleh para petani di Desa Cukang Mara Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka. Tahun 1980-an, Bangle masih di gunakan oleh penduduk di Desa Kalapa dua Kecamatan Lemah sugih Kab.Majalengka untuk pelengkap air dalam bejana (biasanya toples) yang dibawa ke Masjid saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Sepulang dari Masjid, air dalam toples dipakai untuk membasuh muka seluruh keluarga sambil menikmati sangu punar (nasi kuning yang khusus disajikan pada saat memperingati Hari Maulid Nabi). 

Selain itu, Bangle atau panglay senantiasa dihadirkan pada saat kelahiran bayi, sebagai bahan ramuan untuk ditempelkan di ubun-ubun bayi, juga usut punya usut berguna untuk anti septik peralatan yang digunakan paraji (dukun beranak). Bangle adalah tanaman yang sudah lama digunakan di masyarakat sebagai obat tradisional. Rimpang bangle mengandung beberapa senyawa kimia antara lain alkaloid, flavonoid, minyak atsiri, saponin, pati, tanin, teroid/triterpenoid, lemak dan gula. Alkaloid secara umum bersifat detoksifikasi yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh.

Senyawa golongan flavonoid asal tanaman bangle merupakan senyawa peluruh lemak melalui aktivitas lipase. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan, sistem kekebalan tubuh, melancarkan peredaran darah keseluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah. Saponin menjadi sumber anti bakteri dan anti virus,meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar gula dalam  darah.

Bagian yang bermanfaat dari bangle adalah rimpangnya.Tanaman ini berkhasiat untuk mengobati pusing, sembelit, penurun panas (anti piretik), peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak (expectorant), pembersih darah, kegemukan, sakit pinggang, perut nyeri, cacing kremi, encok, sakit kuning, asma, rematik dan memperkuat uterus bagi wanita sehabis bersalin.  Di daerah tertentu seperti di Sumatera, bangle digunakan sebagai penangkal setan dan biasanya diletakkan di tempat tidur bayi atau dibawa oleh perempuan yang sedang hamil.Tanaman ini diduga mengandung zat anti bakteri sehingga dimungkinkan untuk digunakan sebagai antibiotika.

Karena berkhasiat sebagai anti bakteri dan anti virus itulah barangkali para leluhur kita menggunakan bangle sebagai obat maupun sebagai bahan pestisida yang ramah lingkungan. Ini adalah kearifan lokal yang luar biasa. Di Tasikmalaya, Kang Ibo, Ketua Gapoktan Mandiri Simpatik, yaitu gapoktan yang memproduksi padi organik untuk ekspor, telah lama menggunakan bengle sebagai bahan pestisida. Kang Ibo,mencampurnya dengan beberapa bahan lain seperti daun sirsak, bawang putih dan serai. Daun/batang/rimpang bengle, daun sirsak, serai, dan ,bawang putih ditumbuk sampai halus, kemudian direndam selama satu malam, esoknya disaring dan disemprotkan secara rutin tiap 7-10 hari ke tanaman padi.Ka


Budi Kusmayadi_Malai-Malai Padi @ 2015

Sumber Pustaka:
Animal Agriculture Journal, Vol. 2. No. 1, 2013, p 362–369Online
Baitul Herbal. Com

http://ppesuma.menlh.go.id
Read more ...

Senin, 12 Januari 2015

Tomcat Pelindung Padi Organik

Sore itu (06/01/2015), mendung tebal menggelayut diatas langit Kecamatan Anjatan - Indramayu, kami dari Komunitas Malai-Malai Padi berkesempatan meninjau lahan sawah petak percobaan kami untuk pertanian organik. Pada waktu acara workshop pengembangan pertanian organik (27/11/2014), kami diajarkan oleh Ahli Pertanian Organik, Mang Ibo (Hendra Kribo) dari Tasik malaya untuk penanaman bibit tunggal usia muda, 1 bibit per lubang tanam yang ternyata berkembang menjadi rata-rata 30 anakan. (sumber : http://malaimalaipadi.blogspot.com/2014/12/menyemai-harapan-padi-sehat-bagian-2.html).

Hal lain yang juga kami temukan pada demplot padi organik tersebut adalah terdapatnya banyak musuh alami pemangsa hama yaitu serangga Tomcat. Serangga Tomcat atau Paederus littoralis, di beberapa lokasi disebut pula Semut serai, Kumbang Rove (Rove Beetle), Semut Kayap dan  Charlie. 

Hewan ini termasuk dalam keluarga besar Kumbang (Staphylinidae) yang ternyata termasuk kelompok serangga kuno yang berumur 200 juta tahun, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil serangga tomcat dari Jaman Triassic.

Seranggat Tomcat yang kami temukan di pertanaman organik kami sangat dominan per rumpun padi yang kami amati dan kami melihat adanya tidak populasi wereng pada petak tanaman tersebut. Walaupun sempat diberitakan menyerang manusia namun serangga ini sebenarnya sahabat petani karena merupakan predator wereng dan hama ulat kedelai Helicoverpa armigera. Ternyata dengan bertani yang ramah lingkungan dan kembali ke alam, alam menyediakan perlindungan dan immunitas alami bagi hama dan penyakit yang selama ini yang sangat merugikan para petani. 
Eeng - Komunitas Malai-Malai Padi
Read more ...

Sabtu, 03 Januari 2015

Silaturahmi ke Sumedang

Perjalanan kecil kami, di Hari Sabtu, 2 Januari 2014 yang gerimis, alhamdulillah telah mengantarkan kami untuk bersilaturahmi dengan seorang teman lama di Daerah Cimalaka Sumedang. Sebuah daerah sumber mata air di Kaki Gunung Tampomas yang sejuk dan eksotis dengan vegetasi khas pegunungan, sawah, kolam air tawar, mata air dan hutan lindung.

Siang itu setelah kurang lebih menempuh 2 jam perjalanan, kami bertemu dengan Kang IGUN (Gunawan Hidayat), penggiat pertanian di Wanawisata Ciburial, Desa Licin, Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Seorang teman lama yang sangat bersemangat dalam membangun kemandirian di tingkat kelompok tani yang senantiasa berupaya memperjuangkan agar program pertanian dari pemerintah senantiasa tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.


Daerah Ciburial sendiri merupakan daerah konservasi dan mata air di Kawasan Cimalaka yang mempunyai potensi yang besar dalam pengembangan budidaya ikan air tawar semisal Koi, Ikan Mas, Mujair Kumpay, Ikan Kancra, Red-Caff, dll. Hanya sangat disayangkan disana-sini kami menjumpai kesadaran masyarakat yang kurang dalam merawat alam yang indah dan eksotis itu terutama dengan banyaknya sampah plastik di saluran dan penggunaan sumber air untuk tempat pencucian motor.

Kita memang diberi 'surga' oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, namun terkadang tidak ada kesadaran untuk merawatnya.





Siang itu kami belajar lebih banyak tentang kearifan lokal di masyarakat setempat terutama dalam pemanfaatan ekonomi air tawar serta vegetasi hutan lestari. Kami sangat beruntung bisa merasakan udara sejuk di kaki Gunung Tampomas tersebut dan semoga catatan-catatan ini bisa kami aplikasikan untuk kehidupan pertanian kita yang menghargai dan berkomitmen pada pengembangan kearifan lokal.

Eeng - Komunitas Malai-Malai Padi
Read more ...
Designed By Blogger Templates